merangkai cinta dari butiran gerimis
bila nanti dia kan jatuh ke bumi
ketika mendung jadi sahabat
hujan adalah ibuku
menanti bagai menyulam asa
sehelai benang adalah rindu
jarum cinta menusuk rasa
tiadamu bagai raga tanpa nyawa
kau tak lagi jadi nafasku
selimut malam terlempar jauh
dalam lara
jangan tanyakan lagi
sudikah temani tidur panjang
karena aku masih ingin sadarmu
meski bukan aku seorang di dermaga
yang kau arungi
aku ingin kau jadi nahkoda
hingga di pelabuhan terakhir
saat nyawa lepas dari raga
saat nafas tak lagi terasa
akan aku jadikan kau kekasih abadi
mendung bersahabat lagi
Ingin Kupetik Bintang Kejora
Mengapa kau tak melihat apa yang aku fikirkan?
Semuanya terbuka terbaca di mataku
Mengapa kau tak peduli isyarat yang kukirimkan
lewat sejuta puisi, lewat selaksa bunga?
Engkau tetap diam membeku
Kau tepiskan mimpi-mimpiku
Kuhunus pedang cinta, kupekikkan asmara
Semula kau tetap diam
kemudian kau tersenyum
Ingin kupetik bintang kejora
untuk kusematkan di dadamu,
di jantungmu
Mengapa hanya namamu terpatri dalam jiwaku?
Haruskah aku menyerah sebelum aku coba?
Engkau tetap diam membeku
Kau tepiskan mimpi-mimpiku
Kuhunus pedang cinta, kupekikkan asmara
Semula kau tetap diam
kemudian kau tersenyum
Ingin kupetik bintang kejora
untuk kusematkan di dadamu,
di jantungmu .
untuk download ingin kupetik bintang kejora.mp3 klik di foto kang ebiet
Doa Sepasang Petani Muda
Mari kita tunggu datangnya hujan
Duduk bersanding di pelataran
Sambil menjaga mendung di langit
Agar tak ingkar, agar tak pergi lagi
Kasih, kemarilah duduk merapat
Sama-sama tengadahkan wajah
Agar lebih tegar kita memohon
Turunnya hujan basahi bumi ini
Kau dengar ada jeritan
Ilalang yang terbakar dan musnah
Usah menangis
Simpan di langit
Jadikan mendung
Segera luruh jatuh ke bumi
Basahi ladang kita yang butuh minum
Basahi sawah kita yang kekeringan
Basahi jiwa kita yang putus asa
Kemarau ini begitu mencekam
Kasih, kemarilah duduk merapat
Sama-sama tengadahkan wajah
Agar lebih tegar kita memohon
Turunnya hujan basahi bumi ini
Kau dengar ada jeritan
Ilalang yang terbakar dan musnah
Usah menangis
Simpan di langit
Jadikan mendung
Segera luruh jatuh ke bumi
Basahi ladang kita yang butuh minum
Basahi sawah kita yang kekeringan
Basahi jiwa kita yang putus asa
Kemarau ini begitu mencekam.
Nyanyian Bumi Seberang (Bumi Ni Pasogit)
Menyeberangi danau biru terbentang
Bersama istri dan anakku belayar
Singgah di sana, di pulau yang terpencil
Di tengah hamparan telaga, menyimpan keindahan
Dan aku pun terperangah ada yang menegurku
Selintas layaknya ia marah dan membentak
Namun ternyata dari sinar matanya
Terpancar ketulusan sikap bersahabat
Aku ingin hening dan pejamkan mata
Untuk menyimpan apa yang kusaksikan
Suling berserak bercampur songket dagangan
Bertahan dalam kasih bumi leluhur
Meskipun alam tak banyak membantu
Namun kegigihan sanggup merubah
Tandus tanah ini ladang kehidupan
Aku pun terkesima dan enggan pulang
Dan esok harinya kami mendaki
Untuk menikmati keindahan dari bukit
Dan di sana di tengah lingkaran air
Mereka gigih bertahan semangat baja
Aku ingin hening dan pejamkan mata
Untuk menyimpan apa yang kusaksikan
Suling berserak bercampur songket dagangan
Bertahan dalam kasih bumi leluhur
Meskipun alam tak banyak membantu
Namun kegigihan sanggup merubah
Tandus tanah ini ladang kehidupan
Aku pun terkesima dan enggan pulang
untuk download nyanyian bumi seberang.mp3 klik di foto ni pasogit