Faisal Hussein Wong (Wong Fei Hong)

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong , Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab- kan , namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu) . Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung . Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton . Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid.
wallahua`lam bishowab.





Wahai Anakku


Lena tidurmu tidak terkata
ibumu setia
mendengar tangisanmu
sabar dengan kerenahmu
akalmu masih merah
mengenal antara emosi
dan akal.




Setiap masa yang dilalui ayah
hanya mahukan
satu panggilan suara itu
meminta tanpa suara serak
dalam rumah tinggi
di sebuah bandar raya
hidup di sini serba tinggi.




Satu ingatan buat anakku
ayah sayang padamu
ayah terpaksa
meninggalkan kerja
ayah terpaksa
berpisah sementara
hanya masa memisahkan kita.





NORHAIDI MOHD NORDIN
Laman Tasik Pandan, JB


wasiat


bila kau dewasa anakku
telaga kasih ayah bunda jangan dikeringkan
segores luka usah tercabik
biar tiada airmata yang tumpah
tegakkan mereka di tugu paling mulia
agar samudera kebahagiaan
bisa melingkup kehidupan

agar kau tidak tersesat di malam
yang paling gemerlap dan paling  gelap
agar rohmu bisa digamit bidadari

bila kau dewasa anakku
biarlah kau pilih jalan pegunungan
bekal penyejuk hati dan matamu
kaulah nakhoda pengemudi utama
usah kau jelajahi belantara perkotaan
yang selalu membara
karena sumber berair madu
yang setia menantimu dengan rela

dalam munajat dan doaku
bersungguh sungguh memikul
tanggung jawab dan amanah




masih di sini

Pada awal nya aku juga tidak bisa menerima dengan semua keputusan yang aku ambil sekarang, aku butuh saat untuk menata diri dan perasaan ku.
Aku tidak ingat ada berapa janji yang telah terucap untuk mu. Semua itu rencana yang kita inginkan dan kehendaki. Tapi apa aku dosa jika semua tiada terlaksana. Aku sudah berusaha untuk menata hati dan fikiran ku membuat suatu jalan keluar dengan permasalahan yang aku hadapi sekarang.
Aku sangat takut pastinya semua ini akan melukai perasaan mu. Keadaan dan saat yang sangat tidak tepat menjadikan semua seperti ini. Aku dalam dilema panjang tiada ujung nya.
Aku masih disini bertahan untuk mencintaimu semampu aku.Karena aku juga yakin aku akan jadi milik mu selamanya. Jangan pernah terucap lagi satu kalimat itu, aku tidak pernah mengharapkan keindahan dunia yang berlebihan. Cukup bagiku dengan apa adanya tidak kurang atau tidak lebih.Seandainya nanti memang ada perpisahan di awal sebelumnya, sungguh aku akan terluka dan mungkin rapuh, jatuh tumbang seperti ranting patah.Tapi satu hal yang mungkin bisa membuat aku bertahan, ketulusan, kesetiaan, kejujuran, dan kesabaran mu untukku.Sering ada niat hati untuk pergi, karena aku takut akan menjadi duri dalam kehidupanmu.
tapi kaki ini serasa terhenti. Bisakah aku hidup tanpamu.
Satu keyakinan yang tiada pasti. Pergi percuma saja,jika hatiku masih ada bersamamu.
>>>>>>>

buta



ada seorng gadis buta, dia dibenci semua orang, kecuali pacarnya.. lalu gadis ini berkata kepada pacarnya.."aku mau menikah dengan kamu, jika aku sudah bisa melihat" pada suatu hari, ada orang yang mau mendonorkan matanya kepada gadis itu. setelah gadis itu bisa mlihat, dia terkejut karena pacarnya juga buta lalu pacarnya itu berkata "maukah kamu menikah denganku sekarang ?" gadis itu menolak. lalu pacarnya tersenyum dan pergi sambl berkata "jaga baik-baik mataku."

Pada Malam Itu

Pada sunyi malam itu
maka berdirilah sebagai dicinta
di hamparan malam
mencari titik berikutnya
bersama haruman doa
dan manis harapan pada manik embun
yang menghampiri diri di dinihari
dan dalam syahdu malam itu
ada hangatan jernih
menitik di tapak tangan dan hati
berterima kasih dan syukur
pada yang berhaknya
itulah rindunya
malam itu bintang meribu
dingin bayu menderu
titik embun memburu
bulan pun tersenyum malu
matahari bermimpi di peraduan
di langit, darat, laut dan angkasa telah merestui
dan sang putera pun menangis lagi
dalam syahdunya malam dan rindunya.

Sajak Si Karang Yang Hiba Ophan Bunjo



Kaku lenggok gemalai si karang
tersadai di permatang pasir pantai
sedih memandang senyum si rumpai
segar menari tarian dunia laut
diusik anak-anak ikan ceria
di balik batu si kerang giat mengintip
ghairah memandang keriangan di dasar

Itulah yang bermain di fikiran
bagaimana harus ia kembali
mengecapi saat-saat gemilang

Kemilau mentari
menerjah ke mata si karang yang hiba
sebentar lagi diam duduk si karang berpindah
ke rumah besar tentunya di sana
di persada hiasan
dipamerkan bakal diberi pujian

Si karang tambah hebat merintih kesedihan
tika ucapan selamat tinggal rakan-rakan sepermainan…


Lahad Datu 3 Maret 2010

Bumi Mentari

"matahari mengintipku dengan malu-malu
menyambut siangku dari gumpalan awan
menyegarkan aku setelah gerimisnya hujan
melukiskan pelangi kecil dihatiku"




siang ini benar-benar indah, baik harfiah dan kiasan.
harfiah, indah karena sejak tadi pagi di terangi oleh sinar matahari yang cerah.
kiasan, karena puisi yang ku terima siang ini.
puisinya sepertinya masih menggantung, tapi...
mampu membuatku tak lagi mengerutkan dahi mengingat daftar panjang yang harus dikerjakan.
terima kasihku!

i miss you

Bissmillah..
Meyakinkan diri jika aku pasti bisa menerima semua nya.Dari kurang dan lebih.
Baik dan buruk, tawa dan tangis ada dan tiada nya.Karena dari semula bukan kah aku sendiri sudah berani mengambil keputusan untuk satu pilihan.
Jujur ada perasaan dalam hati, sanggup kah aku....
bisa kah aku, kuat kah aku...
pertanyaan yang mungkin aku sendiri dapat menjawab nya atau tidak terjawab selamanya.
Aku ingin ada di pelukannya. Menghabiskan malam, menikmati indah cahaya sang rembulan. Ingin ku bisik kan kata dala setiap terjaga, jangan tinggalkan aku lagi cinta,jiwa ini akan kering tanpa mu, air mata ini tak akan berhenti menangis dengan tiadamu, hati ini merintih merindukanmu.
Dan ketika pagi tiba tanpamu, terasa tak ingin ku buka mataku.Berada di antara bayangan
mimpi, menjadikan semua terasa nyata dalam masaku.
Masih dalam satu pertanyaan panjang, di mana dan kapankah akan aku temui masa itu.
Wahai engkau sang waktu, tetap jaga aku dari penantian panjang ini...

hutan kecil

rindu hutan kecilku, lembahku, tebing-tebing batuku, dan seluruh kesejukan itu

sekilas tentang bahasa

Saya selama ini bergaul dengan bahasa Inggris sebagai "bahasa text book", yakni sebagai bahasa untuk alat artikulasi gagasan-gagasan yang kerapkali bersifat abstrak. Semula, saya mengira, bahasa Inggris "text book" ini sudah paling hebat dan paling tinggi derajatnya; saya semua mengira bahwa bahasa Inggris buku yang "akademis" itu sudah "sundul" atau menyentuh "langit ketujuh".

Saya juga semula mengira bahwa bahasa Inggris buku adalah "superior" ketimbang dialek yang dipakai dalam percakapan sehari-hari; lebih superior daripada bahasa Inggris yang dipakai dalam majalah-majalah atau bacaan populer yang nge"pop".

Mungkin mentalitas seperti ini berasal dari "mind-set" yang terbentuk dalam diri saya saat belajar bertahun-tahun di pesantren. Karena terbiasa mempelajari bahasa Arab sebagaimana dipakai dalam kitab-kitab kanon klasik yang sering disebut dengan "Kitab Kuning" (disebut demikian karena warna kertasnya memang kuning, agar tak menyilaukan mata), saya beranggapan bahwa bahasa dalam buku adalah yang paling baik.

Di kalangan pesantren, muncul semacam pandangan bahwa bahasa Arab seperti yang mereka baca dalam kitab-kitab kuning itu adalah bahasa Arab yang paling berkualitas tinggi, bahasa fushha. Itulah bahasa standar yang mestinya menjadi "kriteria" untuk menilai bentuk-bentuk pengucapan yang lain.

Bahasa Arab "pasaran" (sering disebut dengan "lahjah" atau "al-lughah al-darijah") sebagaimana dipakai dalam pergaulan sehari-hari, dianggap oleh para santri sebagai "bahasa rendahan" yang tak memenuhi standar "bahasa buku" yang baku. Begitu juga bahasa Arab seperti dipakai dalam koran, majalah, atau bacaan-bacaan modern, oleh para santri dipandang dengan "sebelah mata".

Mind-set ini yang terbawa saat saya belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris buku-lah yang semula saya anggap sebagai bentuk yang paling baik dan bermutu.

Perubahan terjadi saat saya menyadari bahwa bahasa Inggris buku itu lama-lama membosankan, apalagi buku-buku yang berisi gagasan-gagasan filsafat yang abstrak. Selama ini, wilayah bacaan saya memang sering berkisar pada buku-buku semacam itu selain buku-buku teknik.

Saat berbicara dengan orang-orang penutur Inggris native, saya merasakan bahwa kosa-kata yang saya kuasai sangat "bookish", alias terasa kebuku-bukuan. Saat saya ingin menulis suatu essai yang tidak berkenaan dengan tugas perkuliahan, saya juga merasa bahwa bahasa Inggris saya kaku atau bahkan tidak memenuhi syarat.

Mulailah saya sadar, bahwa bahasa Inggris buku hanyalah salah satu madzhab atau genre dari banyak jenis-jenis yang ada. Bahasa Inggris buku bukanlah satu-satunya bentuk pemakaian bahasa itu. Ada banyak jenis yang bertebaran di luar sana yang layak dijelajahi.

Mulailah saya melakukan semacam "petualangan" untuk mengenali berbagai ragam pemakaian bahasa Inggris. Dari penjelajahan ini, saya mulai sadar bahwa seseorang yang kompeten untuk ber-bahasa Inggris saat menulis topik tentang sejarah teologi Islam, misalnya, belum tentu dia memiliki kompetensi serupa saat menulis tentang keindahan sebuah taman kota.

Untuk menulis sesuatu tentang keindahan taman kota, anda butuh kosa-kata, idiom, dan ekspresi yang berbeda sama sekali dengan saat anda menulis tentang teologi, filsafat, atau hukum.

Begitu pula, jika anda bisa memahami dengan baik buku-buku tentang filsafat dalam bahasa Inggris, belum tentu anda bisa memahami dengan baik buku-buku tentang masakan atau novel, atau buku-buku travelog yang berisi catatan perjalanan.

Inilah kesan saya setelah sejenak menjelajah: buku-buku tentang tema-tema "non-kuliahan" itu lebih lincah, bergairah, dan girang-gemirang. Kosa katanya juga lebih beragam, lebih kongkret dan "visual". Dalam buku-buku filsafat, banyak kosa-kata yang semula memiliki pengertian yang "empiris" dan kongkret, tiba-tiba kehilangan darah dan "nafsu", menjadi kering-kerontang karena diperas-tuntas oleh sebuah proses kejam yang namanya "abstraksi" atau penajridan.

Dunia gagasan memang kadang berlaku seperti sebuah vampir yang menyesap habis darah bahasa! Pada titik itu, anda harus kembali ke dunia sehari-hari, di mana anda akan menjumpai bahasa yang menari riang-gembira, tanpa dosa, seperti ronggeng di sebuah dukuh yang diceritakan oleh tetangga saya yang menjadi novelis terkenal, Ahmad Tohari itu. Ya, Dukuh Paruk!

Saat saya mulai menjelajahi bahasa Inggris non-kuliahan, saya seperti anak-anak yang baru mengenal bahasa. Saya teriak, "This is the real English, this is what I want!"

Saat masuk toko buku misalnya, saya senang sekali membuka-buka majalah yang biasa dijual di sana, berisi catatan perjalanan, laporan tentang tempat-tempat turisme yang indah, atau sebuah masakan "eksotis" yang berasal dari sebuah sudut dunia yang tak pernah kita ketahui. Dengan membaca bahasa Inggris dalam majalah seperti itu, saya menemukan kosa-kata baru yang digunakan dalam konteks kehidupan kongkret yang berbagai-bagai itu.

Saya senang sekali membacai novel. Saya mempunyai fikiran : sumur bahasa adalah anak-anak remaja belasan tahun (teenagers)! Mereka lah pencipta bahasa yang tanpa dosa, tak peduli dengan sejibun aturan yang kompleks yang di-fatwa-kan oleh Dewan Bahasa itu.

Bacalah novel laris manis karangan Curtis Sittenfeld berjudul "Prep" yang berkisah tentang dunia anak-anak under-grad, anak-anak sophomore, alias mahasiswa-mahasiswi tahun pertama.

Saya juga suka membacai majalah-majalah tentang dunia kuliner. Semua orang butuh makan, tetapi percayalah, anda pasti tak cukup menguasai "diskursus" atau cara bercakap-cakap tentang dunia makanan dan masakan, bahkan dalam bahasa Indonesia sekalipun. Banyak orang yang berpikiran bahwa makanan ya memang untuk disantap, bukan untuk dibicarakan, di-wacana-kan. Makanan adalah dunia kongkret, dunia pra-diskursus!

No, anda keliru. Setiap bagian dalam kehidupan manusia bisa dipercakapkan dengan indah sekali, termasuk dunia makanan dan masakan. Dunia itu juga memiliki kosa-katanya sendiri, idiom-nya sendiri, ekspresinya sendiri, bahkan wisdom dan filosofinya sendiri.

Jika anda meraih skor TOEFL yang paling tinggi, maka itu bukan berarti anda sudah menguasai bahasa Inggris dengan hebat. Itu barulah pertanda bahwa anda masuk dalam beranda bahasa Inggris. Untuk mengetahui kekayaan bahasa itu, anda harus masuk ke dalam rumahnya, mengeksplorasi seluruh kamar-kamarnya, bahkan kalau perlu hingga ke kamar mandi dan toiletnya.

Setiap bahasa selalu mempunyai dimensi yang kaya seperti itu. Sekali lagi, bahasa buku hanyalah salah satu madzhab saja dari keseluruhan bagian bahasa yang sangat kompleks dan kaya; dan kebetulan bukan bagian yang terbaik

di mana bayanganmu

Bersama malam yang sepi
Ku bisik suara hati
Sayangnya kau tiada
Di mana bayanganmu





Duhai angin lalu
Belai rintihanku
Resah merindukanmu

Badai yang melanda
Jangan kau alunkan
Lagu kesedihanku pilu

Di manakah bayanganmu
Dalam kabus keresahan
Ku menanti kau menjelma
Di balik sinaran rembulan

Dalam redup senja
Aku kesepian
Kasihku mencarimu
Rindu

pita kuning

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.
Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.
Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.
Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.
Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku.
Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan?
Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."
Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan...kita mesti lihat apa yang akan terjadi..."
Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.
Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetes di matanya...
Dia tidak melihat sehelai pita kuning...
Tidak ada sehelai pita kuning....
Tidak ada sehelai......
Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantungan di pohon beringin itu...Ooh...seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!!!!!!!!!!!!
Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.




I'm coming home I've done my time
And I have to know what is or isn't mine
If you received my letter Telling you I'd soon be free
Then you'd know just what to do
If you still want me
If you still want me

Oh tie a yellow ribbon 'Round the old oak tree
It's been three long years
Do you still want me
If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree
I'll stay on the bus, forget about us Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree

Bus driver please look for me
'Cause I couldn't bare to see what I might see
I'm really still in prison And my love she holds the key
A simple yellow ribbon's all I need to set me free
I wrote and told her please

Oh tie a yellow ribbon 'Round the old oak tree
It's been three long years
Do you still want me
If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree
I'll stay on the bus, forget about us Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree

Now the whole damn bus is cheering And I can't believe
I see A hundred yellow ribbons 'Round the old, the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak tree



secangkir kopi

Aku hanya secangkir kopi yang semestinya nggak bole dikonsumsi seorang penderita maag
Aku hanya segenggam emosi dan temperamen yang belajar untuk egois
Aku hanya sebuah sensitifitas yang berjuang untuk mengerti kompleksnya hidup
Aku hanya jiwa yang kan makan sebelum benar-benar lapar dan kan terlelap sebelum benar-benar mengantuk
Aku hanya segaris senyum yang mudah terluka
Mudah menghapus luka dan membuang masalah semudah membuang tissue ke tempat sampah
Namun tak mudah lalui hari tanpa mendengar suaranya
Kesendirian memang tak pernah luput dari hari-hariku yang berteman ketikan keyboard berisi harap, doa, cinta, benci, marah sampai kerinduan yang tertuju padanya
Salah bila kuingin berbagi? Sedikit terhibur setelah mendengar lelucon kecil darinya meskipun seringkali berakhir dengan kesalahpahaman…
Sebagian orang tak kan bersabar menjalani ini, tapi kucoba dengan sabar yang kupunya.
Ia teman di hidupku yang sangat ingin kupeluk
Ia cerita yang belum begitu nyata, karena ia hanya muncul disaat malam menjelang dan mimpi yang kan hilang saat aku kembali melihat dunia
T'lah kucoba berbagai caraku tuk sampaikan bahwa kubenar mencinta dan merindunya
Bagai syal dan kaus kaki yang menghangatkan jiwa saat hujan datang, seperti itu pula arti hadirnya dalam mati rasaku.
Berkali kuterpejam dan berharap esok kan nyata ia dihadapanku
Aku memilihnya karna "kamu beda"
Sangat sulit memaknai setiap persamaan yang kita punya dan aku hanya mendengar ucap "kita kan soulmate" darinya.
Kuingat setiap ucap dan ungkapnya yang tak letih menyadarkanku….
Maaf atas salah yang berulang kubuat, jangan biarkan ku berjalan sendiri tanpa cahayamu. Dan bila cahayamu tak sanggup lagi terangi hariku, maka kan kuingat kisah ini sebagai kisah yang tak kan terlupakan.
Cinta indah pada waktunya, kesulitan yang dirasakan saat ini akan berujung bahagia seperti pahit itu manis jika kita percaya dan saling mengisi kekurangan satu sama lain. Terimakasih atas kesabaranmu untukku……



mutiara kesabaran

Seekor anak kerang mendatangi ibunya sambil menangis. "Aduh ibu punggungku sakit sekali" keluh sianak kerang. Dengan penuh kasih sayang ibunya melihat punggung sianak. Dengan tersenyum penuh kelembutan seorang ibu dia menghibur anaknya. "Anakku sabar ya, sini ibu usap punggungmu" hibur siibu kerang. Dengan manja sianak kerang menhampiri ibunya. Dengan usapan yang lembut sebetulnya tidak menghilangkan rasa sakit di punggungnya, namun hatinya terobati dengan kelembutan ibunya rasa sakit punggung itu berkurang.

Tahun berganti tiap hari sianak kerang terus merasakan sakit dipunggungnya, namun dengan kesabaran dan kelembutan dari si ibu kerang sianak jadi terbiasa merasakan sakit dipunggungnya. Hingga tibalah saat ia dewasa sakit dipunggungnya berubah jadi sesuatu yang indah, yang mahal harganya dan dikagumi banyak manusia. Sebuah "Mutiara" ia persembahkan kepada dunia, kini rasa sakit yang ia derita sekian tahun tergantikan dengan sesuatu yang indah yang dikagumi banyak orang dan didamba semua orang. Dan tidak semua kerang bisa mempersembahkan itu.

Begitu juga dengan kesabaran, fitnahan, cacian, kedengkian dan aneka cobaan yang kadang kita terima dalam hidup ini. Semua itu kadang kala membuat kita sakit dimana rasa sakit itu kadang luar biasa, kadang pula putus asa juga menghiasi saat kita menerima musibah atau cobaan. Namun bila kita bisa mencontoh dari seekor anak kerang walau dengan rasa sakit yang terus menghimpitnya dia tetap sabar dan tabah menerima itu semua lihatlah hasilnya. Mungkin kita tidak bisa mempersembahkan mutiara secara nyata namun mutiara itu bisa kita rasakan dan bisa pula dirasakan orang disekeliling kita.

Buah dari kesabaran membuat kita tidak mudah marah, tidak mudah memfonis salah pada orang, slalu introspeksi diri, mudah memaafkan, tidak sembarang bicara tanpa dipikir terlebih dahulu, bahkan selalu sabar bila orang mengatakan kita jelek, kita salah, kita biak keladi, atau bahkan kita dituduh sebagai pencuri. Dengan senyum kesabaran kita menerima semuanya itu. Yah dengan senyuman membuat orang jadi sabar menerima cobaan dunia.

Semoga kita mempunyai mutiara kesabaran untuk menjalani kehidupan dunia yang penuh dengan aneka problema ini.