secangkir kopi

Aku hanya secangkir kopi yang semestinya nggak bole dikonsumsi seorang penderita maag
Aku hanya segenggam emosi dan temperamen yang belajar untuk egois
Aku hanya sebuah sensitifitas yang berjuang untuk mengerti kompleksnya hidup
Aku hanya jiwa yang kan makan sebelum benar-benar lapar dan kan terlelap sebelum benar-benar mengantuk
Aku hanya segaris senyum yang mudah terluka
Mudah menghapus luka dan membuang masalah semudah membuang tissue ke tempat sampah
Namun tak mudah lalui hari tanpa mendengar suaranya
Kesendirian memang tak pernah luput dari hari-hariku yang berteman ketikan keyboard berisi harap, doa, cinta, benci, marah sampai kerinduan yang tertuju padanya
Salah bila kuingin berbagi? Sedikit terhibur setelah mendengar lelucon kecil darinya meskipun seringkali berakhir dengan kesalahpahaman…
Sebagian orang tak kan bersabar menjalani ini, tapi kucoba dengan sabar yang kupunya.
Ia teman di hidupku yang sangat ingin kupeluk
Ia cerita yang belum begitu nyata, karena ia hanya muncul disaat malam menjelang dan mimpi yang kan hilang saat aku kembali melihat dunia
T'lah kucoba berbagai caraku tuk sampaikan bahwa kubenar mencinta dan merindunya
Bagai syal dan kaus kaki yang menghangatkan jiwa saat hujan datang, seperti itu pula arti hadirnya dalam mati rasaku.
Berkali kuterpejam dan berharap esok kan nyata ia dihadapanku
Aku memilihnya karna "kamu beda"
Sangat sulit memaknai setiap persamaan yang kita punya dan aku hanya mendengar ucap "kita kan soulmate" darinya.
Kuingat setiap ucap dan ungkapnya yang tak letih menyadarkanku….
Maaf atas salah yang berulang kubuat, jangan biarkan ku berjalan sendiri tanpa cahayamu. Dan bila cahayamu tak sanggup lagi terangi hariku, maka kan kuingat kisah ini sebagai kisah yang tak kan terlupakan.
Cinta indah pada waktunya, kesulitan yang dirasakan saat ini akan berujung bahagia seperti pahit itu manis jika kita percaya dan saling mengisi kekurangan satu sama lain. Terimakasih atas kesabaranmu untukku……



No comments:

Post a Comment